Minggu, 15 Juli 2012

KEMBALI MENGGAGAS NEO-HMI


By: Ahmad ArifinMenangkap Semangat Zaman, Memperluas Horizon Himpunan, Memaksimalkan Nilai dan Potensi Kader HMI, Melahirkan Pemimpin Masa Depan yang berkarakter di Era Informasi



Menggagas Neo-HMI Lebih serius

Gagasan besarnya adalah menubuhkan HMI sebagai rumah kultural yang nyaman bagi semua mahasiswa ber-KTP Islam tanpa memandang setinggi atau serendah apa kadar religiusitasnya, tanpa mengacuhkan segenap pemahaman dan aliran ke-Islam-annya. Sebab HMI adalah milik semua dan semua berhak memiliki HMI. 

Ide dasarnya adalah menjadikan HMI sebagai sekolah pengembangan kepribadian seutuhnya tempat segenap bakat dan minat anak-anak muda mengalami fermentasi, mengalami metamorfosa menjadi insan-insan yang siap menghadapi gejolak hidup paska kuliah. Menjadi insan-insan muda neo-Sufi yang independen secara etis, organisatoris dan finansial. Menjadi paramuda yang positif memandang dunia, yang berpikiran terbuka terhadap perubahan, yang bersangka baik terhadap sesama dan berkepala dingin terhadap Tuhannya. Menjadi Belia-belia profesional yang cakap dalam bidangnya sekaligus tanggap terhadap perubahan sekitarnya. Menjadi agent of social change sejati serta agent of social control seutuhnya. Idealnya insan cita HMI seperti itu di masyarakat citanya. 

Mari kita jujur terhadap diri sendiri, selama ini output HMI hanyalah menjadi Politisi (sebagian terbesar) mengikuti jalan Akbar Tandjung, ada juga yang menjadi Intelektual mengikuti jalannya Nurcholish Madjid serta ada pula yang menjadi Pekerja Sosial mengikuti jalannya Munir. Ketiga kategori itu adalah output alumnus HMI hasil disain organisasi selama ini –dan itu tidaklah salah. Tetapi apakah ketiga kelompok kategori itu mencukupi di era informasi sekarang ini? Jelas jawabannya tidak! Terus terang saja jika ingin terus bertahan ke masa depan, HMI membutuhkan output-output alternatif yang memang didisain seperti itu secara serius. Selama ini –dan sekarang ini- HMI bukanlah wadah yang efektif untuk banyak minat dan bakat profesional anak-anak muda yang sekarang sedang mewakili zamannya di kampus-kampus (..sementara HMI sendiri sibuk bernostalgia dengan zaman-zaman kejayaan dulu yang sebenarnya sudah tidak sesuai lagi). 

Karena itu HMI harus berubah.. Yakinlah tanpa adanya perubahan maka tidak lama lagi HMI akan tertinggal sebagai fosil sejarah. Karenanya berubah adalah satu-satunyanya pilihan! 

Dan perubahan paling mendasar adalah bagaimana mendisain HMI agar semakin legit menangkap semangat zaman dan bukannya terkubur masa. Itu artinya HMI wajib menyesuaikan diri dengan keadaan dan suasana batin orang-orang muda di Kampus-kampus yang sekarang lebih skeptis terhadap organisasi kemahasiswaan konvensional semodel HMI karena ternyata semakin hari semakin bar-barian dan terkesan murahan. Mereka adalah generasi muda yang merepresentasikan masa depan negara ini paling tidak untuk sepuluh-dua puluh tahun ke depan. Mereka terlahir untuk era baru yang lebih menantang karenanya mereka jauh lebih disiplin, lebih cepat, lebih profesional, lebih berbakat dan lebih percaya diri. 

Jadi, pertanyaan pokoknya adalah apakah kita masih hendak mempertahankan disain lama dari era usang atau justru bersiap menyongsong arah dan era baru? 

Sebab yakinlah, merekrut mereka menjadi penerus HMI dengan cara-cara lama tidak akan efektif. Tanpa HMI mereka masih bisa hidup dan hidup mereka bahkan lebih cerah lagi. Atau lebih tragis lagi, bisa jadi dengan menceburkan diri ke HMI mereka justru melambatkan masa depannya paling tidak seoktaf ke belakang. Kenapa? Karena HMI tidak bisa memberikan apa yang mereka butuhkan! Itu sebabnya HMI tidak diminati karena tidak menampung minatnya. Itu karena HMI tidak bisa menjadi Pemandu bakat karena hanya tertarik kepada satu bakat saja.. 

Kita bisa memulainya dari sini dan karena itu Neo-HMI diperlukan! 

Neo-HMI adalah semangat perubahan konstruktif yang akan menjadikan HMI setingkat lebih berkembang dalam horison dan dimensinya. Mari membayangkan HMI adalah rumah untuk seluruh potensi mahasiswa yang ada bukan sebatas kepada mereka-mereka yang berminat kepada politik dan sejenisnya. Mari mengidamkan HMI menjadi organisasi paripurna yang dilirik mahasiswa darimanapun latar belakangnya karena memberikan pilihan alternatif untuk mengasah minat dan bakatnya -apapun itu! Mari mengkhayalkan HMI menjadi sejenis pendidikan tinggi kedua yang berjalan beriringan dengan Kampus dalam karir kehidupan kedewasaan seorang Paramuda -tidak lebih penting tetapi juga tidak lebih rendah.. 

Kita tahu bahwa Neo-HMI sempat menggema beberapa waktu yang lalu, tetapi karena tiadanya keseriusan tingkat tinggi diantara Para Pemangku kepentingannya maka sang gemapun sudah layu sebelum berkembang. Karena itu dia perlu dibangkitkan kembali tentu dengan cita rasa dan kearifan. 

Apakah itu mungkin? Jawabannya: sangat - sangat memungkinkan! Atau bagi yang merasa hal itu semacam mimpi maka biarlah terus bermimpi sebab impian adalah awal dari sebuah perubahan. Sebab matinya gagasan adalah awal dari matinya peradaban..

Mencoba Menghindar dari Budaya Tukang Tanduk

Sebagai ghalibnya sebuah organisasi sosial yang nirlaba maka persoalan pendanaan kegiatan selalu menjadi masalah klasik bagi setiap periode kepengurusan HMI. Dan solusi instan untuk masalah itu –yang juga sudah klasik- adalah menggelar apa yang disebut tradisi pengumpulan dana, mulai dari sekadar ‘patungan’ untuk sekadar membiayai Pecal Party di Komisariat hingga ke hal-hal yang lebih serius seperti untuk berangkat LK II ke luar daerah. Dus, sampai disitu belum terlihat adanya masalah yang berarti. 

Sayangnya seumpama meminum air putih, segelas dua gelas tidak akan membahayakan diri malah justru menyegarkan dan menyehatkan. Nah, sekarang cobalah tenggak agak segalon! Anda akan mengalami apa yang disebut mabok aqua..

Maksudnya, kebiasaan baik mengumpulkan sumbangan yang sepenuhnya murni di tingkatan komisariat justru mengalami bias orientasi di tingkatan HMI selanjutnya. Kita sekarang mengenalnya dengan sebutan ‘tukang tanduk’ yang sayangnya sudah menjadi budaya di Himpunan –sayangnya pula termasuk budaya negatif. Tradisi menanduk alumni atau birokrat melahirkan kultur uang instan dengan motif yang semakin personal alias untuk kepentingan pribadi semata. Jadi ketika di komisariat tanduk yang nongol di jidat anak-anak HMI baru seupil maka di tingkatan PB HMI tanduk itu sudah melintang panjang seperti tanduk kerbau dari Padangbolak sana. Tragisnya kultur itu masih tetap dibawa-bawa setelah menjadi alumni olehkarena tidak terbiasa mencari uang dan pekerjaan alias non-skill. Kita dapat melihat contoh-contoh kasus untuk kisah ini justru di tingkatan elit organisasi yang seharusnya memberikan teladan baik. 

Semuanya terjadi karena pembiasaan dan pembiaran. Kita terlupa bahwa menanduk itu sama saja dengan meminta-minta meskipun kita berstelan modis dan wangi. Kita juga alpa bahwa apa yang gratis sesungguhnya sama dengan ‘tidak berharga’ termasuk juga kita yang mendapatkannya. Lalu apakah kita akan membiarkan juga HMI berubah menjadi Perkumpulan Pengemis Golongan Putih? 

Kita mesti mencoba menghindar dari budaya buruk itu semenjak awal –sejak dari komisariat dan cabang. Tak ada pilihan lain. Kita toh tidak ingin memproduksi kader-kader bermental jenggot yang hanya bisa nempel ke atas tapi tidak mempunyai akar meski hanya sekadar akar serabut. 

Apakah itu memungkinkan? Jawabannya sekali lagi: sangat-sangat memungkinkan! Karena kita punya potensi yang selama ini belum pernah digarap secara serius. Kita bisa memulai dari:


Membumikan NDP Lebih Taktis

Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI adalah harta benda Himpunan yang nilainya sungguh tak terkira. Setelah independensi maka NDP-lah yang memberi ciri khas yang sangat berwarna HMI dan karena itu wajib dijaga dan bukannya dibuang ke tong sampah. Inilah nilai-nilai yang menjadi substansi Kader-kader HMI selama ini. Andai kita ingin melahirkan Pemimpin yang berkarakter dank has HMI maka tak dapat tidak kita tidak mungkin mengecualikan NDP dan Independensi HMI.

Nah, sayangnya sampai sejauh ini NDP ternyata belum pernah dikelola secara maksimal sehingga menimbulkan kesan elit dan ‘berat’. Padahal sakralisasi NDP hanya akan menjauhkannya dari jangkauan anak-anak muda yang sedang bersemangat mencari jati diri. Al-hasil NDP hanya akan menjadi menara gading yang indah dipandang tetapi sulit dijangkau. 

Bukankah NDP selama ini hanya kita dapatkan di arena formal semacam LK I dan training semacamnya? Di luar itu kita kesulitan mengakses dokumen itu sebab biasanya diskusi-diskusi informal tidak cukup menarik minat. Karena itu ‘dia’ memang harus dibuat dalam bentuk yang lebih resmi dan mengikat semodel kelas-kelas kajian. Hanya itu cara yang paling pas untuk sesuatu yang kita sebut sebagai ‘cara ber-Islam khas HMI’. 

Karena itu NDP justru perlu dimassalkan menjadi kajian populis bagi segenap kader-kader HMI. Bentuknya adalah modul-modul praktis dengan kurikulum terperinci seperti SKS di perkuliahan. 

Dengannya kita berharap nantinya NDP benar-benar menjadi landasan budaya segenap komponen HMI meski telah alumni. Dengannya kita ber-asa melahirkan Pemimpin-pemimpin HMI yang bonafid yang pada akhirnya bisa menjadi Pemimpin bangsa yang berkarakter teguh. Kita juga berkeinginan NDP menjadi ciri Neo-HMI di masa depannya dan karenanya sebaiknya dia menjadi ‘betul-betul’ landasan theologies setiap agenda HMI termasuk seperti yang ingin dirancang di bawah ini.


Meningkatkan Kapasitas BPL

Badan Pengelola Latihan (BPL) adalah sokoguru yang menjaga HMI tetap dalam ruhnya sebagai organisasi perkaderan dan bukan sekadar organisasi massa yang massal. Untuk level dan tingkatannya HMI sampai sekarang masih tetap merupakan organisasi perkaderan terbaik dari semua yang ada dan meskipun tidak di setiap unit-unit HMI masih bersetia dengan ruh organisasi itu tetapi kita tetap masih boleh berbangga –saya kira- bahwa sebagian terbesarnya masih seperti itu. BPL HMI di tingkatan cabang dengan bantuan supervisi yang lebih serius dari Badko dapat memastikan hal itu terjadi 

Intinya, BPL HMI adalah sesuatu yang harus terus kita jaga dan support perkembangannya. Kita perlu terus mendorong dan membudayakan niatan kader-kader HMI untuk menjadi instruktur agar semakin tinggi dari periode ke periode karena justru disitulah nafas perkaderan HMI terletak. 

Sekarang mari kita berhitung dengan faktor pengali utama adalah fakta bahwa jabatan keinstrukturan merupakan jabatan yang dipegang terus-menerus seumur hidup. Berapakah jumlah Instruktur yang dimiliki setiap HMI Cabang dan Badko selama ini? Jawabannya pasti sangat banyak meski data pastinya tidak ada. Kemanakah mereka ‘bersembunyi’ selama ini? Dan mengapa tidak pernah ‘diaktifkan’ kembali? 

Jawaban atas pertanyaan itu ialah karena mereka memang tidak diperlukan lagi karena training-training yang perlu dikelola hanya sebatas training formal yang selama ini ada dan cukup diberdayakan oleh Instruktur-Instruktur muda yang muncul belakangan. Adapun Sang Senior Sepuh dengan segala pengetahuan dan pengalaman berkaratnya mengalami ‘kuldesak’ karena tidak menemukan tantangan baru dan akhirnya menghilang begitu saja seperti berlalunya angin. 

Mari kita ajukan proposal yang menerobos kebekuan selama ini dengan meningkatkan kemampuan BPL HMI cabang-cabang yang ada dengan supervisi sepenuh hati dari Pengurus Badko HMI Riau Kepri. Mari kita rekrut kembali Instruktur-instruktur sepuh dan mari kita lahirkan wahana-wahana baru yang sesuai dengan kapasitas senioritas mereka. Mari kita tingkatkan kapabilitas BPL HMI Cabang-cabang sekawasan koordinasi Propinsi Riau dan Propinsi Kepulauan Riau melewati horizon dan spektrum baku-nya selama ini. 

Apa yang saya maksudkan adalah menjadikan BPL HMI Cabang-cabang untuk tidak hanya fokus ke dunia internal HMI semata tetapi sudah seharusnya berani memandang dan bereksperimental di luar HMI. Sudah saatnya kita mengikuti trend pendidikan alternatif luar kampus seperti gejala yang sedang in saat ini.


Membidani Jenis Training Varietas Baru

Terkait dengan hal di atas maka sangat perlu untuk berani melakukan terobosan-terobosan dalam bentuk penciptaan training-training baru atau yang semacam itu. Tentu bukan dalam artian membuat Latihan Kader (I, II dan III) dalam bentuk yang lain –meski itu juga ide yang sangat menarik. Yang kita maksudkan adalah fasilitasi terhadap tantangan zaman era baru yang semakin kompleks dan karenanya perlu kita antisipasi terutama karena tidak akan kita temukan di bangku perkuliahan – atau setidaknya belum!

Sudah saatnya HMI memberikan pilihan-pilihan pendidikan alternatif semodel Training ESQ-nya Ary Ginanjar atau Seminar Motivasi Diri a la Mario Teguh yang sekarang ini semakin digandrungi dimana-mana sebagai pilihan pengembangan kepribadian masyarakat terdidik kelas menengah di perkotaan. HMI jelas memiliki kemampuan melakukan hal yang sama karena telah berkecimpung puluhan tahun dalam dunia training. Dengan bantuan para Sesepuh kita pasti bisa meluncurkan sejenis kompetensi baru yang khas HMI sehingga kita turut berandil dalam zaman baru yang kompleks ini. 

Nah, pada saat yang sama HMI juga perlu melahirkan lagi sejenis training kecabangan berdasarkan minat dan bakat kader-kader HMI. Selama ini kita hanya mengenal Senior Course dan Latihan Khusus Kohati sebagai pilihan terbatas bagi anak-anak HMI. Tetapi sejalan dengan semangat zaman yang semakin menghargai profesionalisme berbasis skill yahud, kita mesti memfasilitasi kemunculan training seperti dimaksud. 

Dan dalam soal cipta-mencipta sejenis training anyar ataupun mengkreasi sesuatu yang baru seharusnya bagi HMI bukanlah suatu persoalan berarti mengingat di masa lalu hal itu sudah banyak terjadi. Lagipula hal-hal seperti itu dimungkinkan oleh Konstitusi HMI.


Politik Pemihakan terhadap Lembaga Kekaryaan

Hal di atas sekaligus dimaksudkan sebagai bagian dari persiapan untuk lebih serius berpihak kepada pengembangan Lembaga-lembaga Kekaryaan (LK) yang selama ini di anak tirikan. Politik pemihakan harus dilakukan oleh Pengurus HMI Cabang maupun Badko HMI Riau Kepri agar eksistensi lembaga ini dapat berjalan kontinyu dan tidak layu di tengah jalan.

Lembaga Kekaryaan sudah lama ada di tubuh HMI sebagai wahana alternatif untuk mengasah minat dan bakat anggota HMI. Sayangnya tidak pernah ada keseriusan untuk mengembangkannya, adapun anak-anak HMI lebih tertarik ke organisasi induk yang biasanya hanya tertarik kepada masalah-masalah politik. 

Thus, oleh sebab itu ini saatnya kita berpaling kepada lembaga kekaryaan yang potensinya justru sangat melimpah di seluruh komisariat dan cabang HMI. Untuk sekadar memberi contoh dapat disebutkan bahwa hampir setiap komisariat di bawah binaan Cabang HMI sebenarnya memiliki karakteristik yang unik dan dominan, sebagian dikarenakan asal fakultas yang memang spesifik sebagian lagi karena alasan sejarahnya selama ini. Semuanya itu merupakan modal untuk membentuk lembaga kekaryaan sesuai karakteristik yang dimaksudkan. 

Tentu melahirkan Lembaga Kekaryaan itu gampang saja, yang paling sulit justru menjaganya tetap ada. Untuk itulah diperlukan peran serta Pengurus Badko HMI Riau Kepri untuk secara serius melakukan pembinaan sebagaimana fungsinya selama ini. Adapun Cabang-cabang HMI juga mesti pandai-pandai melakukan skala prioritas berdasarkan urgensi kebutuhan cabang –tidak asal banyak dan tidak asal ada. Perlu juga dipikirkan untuk memperpanjang masa kepengurusan setidaknya dua tahun di masa awal pertumbuhannya –dengan melanjutkan periode kedua meski dengan pengurus yang sama.


Koperasi Insan Cita

Sejalan dengan semangat kemandirian dan profesionalisme HMI yang diangankan, sudah pada tempatnya jika HMI mulai berpikir soal sumber pendapatan finansial sendiri –sumber utama kritik terhadap dependensi HMI selama ini. Ini tentu tidak dengan maksud mengubah bentuk dan karakteristik keorganisasian HMI yang sudah ada selama ini. Hal itu takkan pernah dapat dibenarkan dan tak perlu dilakukan. 

Jika lembaga kekaryaan adalah sarana mempersiapkan profesionalitas kader HMI, di lain pihak bagi Pengurus HMI solusi paling praktis adalah membangun apa yang dinamakan ‘Koperasi Insan Cita’. Koperasi adalah instansi bayangan HMI yang dapat dipergunakan sebagai lembaga untuk menjemput karya dan kekaryaan yang biasa kita sebut ‘proyek’ itu. Ini jauh lebih terhormat daripada sekadar meminta-minta sumbangan dan bantuan ‘halal dan tidak mengikat’ yang selama ini kita lakoni –meskipun sejujurnya harus diakui belum tentu akan mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan. Tetapi setidaknya itu adalah niat dan sebagai sebuah sarana mempersiapkan diri menjadi Enterpreuner yang intelektuil maupun Intelektual yang ber-enterpreurship. 

Koperasi adalah wahana resmi yang paling mampu mengakomodasi kemampuan skillitas yang semi professional sekaligus pada saat yang sama berasaskan kebersamaan orang banyak yang sesuai belaka dengan HMI.


Penutup

Kulminasi sederhana dari NDP sebagaimana kita ketahui adalah tiga puncak yang kita sebut Islam Iman dan Ihsan, atau lainnya adalah Iman Ilmu dan Amal. Insya Allah inilah yang kita sasar melalui pengembangan kualitas insan cita paripurna untuk setiap detik kekaderan yang kita lalui. Mudah-mudahan tidak ada yang mustahil disitu karena pada akhirnya kita akan menjadi insan-insan Neo-Sufi yang sebagaimana dilansir Cak Nur sebagai bentuk lain dari Insan Cita yaitu orang-orang baik yang tidak mau ‘meninggalkan’ dunia tetapi justru menggumulinya dengan semangat kehanifan. 

Dan jika benar-benar diperhatikan, sesungguhnya tidak ada yang benar-benar baru dari uraian di atas. Karena itu, ini bukanlah tentang HMI Baru melainkan sekadar HMI yang dibaharukan. Itulah Neo-HMI atau setidaknya Neo-HMI a la citarasa sendiri. 

Satu lagi, meski tulisan praktis ini adalah asa yang hendak dicapai secara serius tetapi pada akhirnya adalah musykil membayangkan bahwa semuanya akan mewujud dalam satu periode kepengurusan yang hanya satu atau dua tahun. Olehkarena itu andai kita semua bersepakat dengan kertas kerja ini –saya sungguh berharap demikian- maka hendaknya kita juga seia sekata memperjuangkannya di tahun-tahun yang akan datang. 

Sebab keseriusan memerlukan waktu! 

Terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar